kenapa gak pacaran ? intinya sih sama kayak ini 👇
"Udah lama ga pacaran, begitu ada yang alus sok care jadi risih.
Gua udah renta, udah bosen sama siklus : kenalan - pdkt - pacaran - putus - kenalan lagi.
Ga perlu lagi pertanyaan "kamu udah makan? Jaga kesehatan ya~"
Gua udah gede. Gua udah bisa ngurus diri sendiri. Udah bisa berusaha buat bahagiain diri sendiri.
Gua ga butuh pasangan yang bikin gua bahagia. Gua cuma butuh pasangan yang bisa bikin dirinya sendiri bahagia. Sehingga dia ga bakal nuntut gua buat bahagiain dia. Karena gua juga gabakal nuntut hal serupa. Hubungan ga cuma buat ngejar bahagia. Karena inti dari hidup ini adalah survival.
Gua ga butuh pertanyaan buat nunjukin rasa sayang. Gua butuh pembuktian kalo emang bener bener sayang. Gua ga peduli sama simpati karena empati lebih penting. Gua kapok ngegantungin kebahagiaan sama pasangan. Karena saat dia pergi gue bakal bingung gimana caranya gue bahagiain diri gue sendiri. I learnt it very hard way.
Gua ga pengen diperlakuin diperhatiin kaya bayi. Karena gua juga gabakal perhatiin dia sedemikian rupa. Kita butuh teman, teman buat berpetualang ngejalanin hidup:)
Gua capek menjalani fase hubungan yang ujung-ujungnya gagal .Beberapa hati terlalu capek ngelintasin jalan panjang yang kalo pada akhirnya tujuannya cuma jurang kekecewaan.
Ya ga tau juga sih kalo pacarannya cuma main-main doang, tapi emang ga capek hati gitu pacaran-putus-pacaran-putus?
Males banget menghadapi drama di dalam hubungan, gua hampir ga bisa menghindari terjadinya drama. Perbedaan pendapat, komunikasi yang ga lancar, susah ngatur waktu buat ketemu dan belum lagi hadirnya orang ketiga atau mantan yang bangkit lagi dari alam barzah seringkali jadi sumbu drama. Karena drama inilah yang bikin orang males pacaran.
Nirmala♚
Senin, 29 Februari 2016
Jumat, 25 Desember 2015
Nengok dari pengalaman bukan sombong
Kenapa gue nggak pernah mengulurkan tangan ketika ada pacar orang yang menawarkan perkenalan dan pertemanan? Karena udah pengalaman dan ketebak akhirnya. Gue anggap cowok itu temen, dia anggap gue lebih. Gue bales chat dia nyantai, dia baper dikira gue kasih sinyal. Dia ngajak ketemuan, sebagai temen-- gue ladenin. Eh, nggak tahunya dia ada rasa, tanpa menyadari kalau dia udah punya kekasih.
Then, ceweknya si cowok yang baperin gue itu tiba-tiba iMessage gue ngata-ngatain jablay, murahan, kegatelan, padahal yang lebay dan bikin drama duluan siapa? Cowonya duluan. :) Anyway, cewek yang mulutnya kasar gitu, makan bangku sekolahan nggak sik?
Ketika gue tahu betapa sampahnya temenan sama pacar orang, gue memilih gak mau temenan sama pacar orang. Eh, kemudian ada lagi, nih, pacar orang ngajak temenan. Gue tolak. Doi nyumpah-nyumpahin pake bawa-bawa nama Allah katanya biar gue ditegur sama Allah gara-gara milih temen. :p
Sorry, sebelum lo bawa-bawa nama Tuhan, mending lo mikir gimana dulu posisi gue. Masa lalu kayak gimana yang bikin gue membatasi diri buat nggak kenal lebih jauh sama pacar orang, supaya lo nggak perlu bawa-bawa nama Tuhan sembarangan hanya karena lo ngerasa hidup lo paling bener. Gue udah punya pengalaman, temenan sama orang yang pacarnya serba posesif itu nggak nyantai. Serius nggak nyantai. Berangkat dari pengalaman itu, mending gue temenan sama jones yang asik dan nggak baper dibawa ke mana-mana.
Gue nggak peduli kalau orang anggap "Lo, kok, pukul rata kayak gitu? Lo, kok, mengeneralisasi kayak gitu? Lo, kok, mikirnya gitu? Berarti setiap cowok yang punya pacar berarti nggak boleh punya temen?" Deuh, sumpah nggak peduli mau dibilang apa. Emang dasarnya gue nggak pernah ada niat ganggu hubungan orang, mending jauh-jauh aja sebelum hadir benih-benih baper. Bukan milih-milih dan mengeneralisasi. Trauma. Udah males. Lebih baik nemenin jomblo sekalian daripada nemenin orang yang punya pacar posesif. Salah sendiri euy maneh punya pacar ripuh pisan. :p
Gue udah ditegur sama Allah duluan bahwa kalau mau temenan sama pacar orang lain harus mikir dua kali. Apalagi kalau ternyata gue jauh lebih menggoda daripada pacarnya dia sendiri? :p
Temenan? Boleh. Tapi kalau sampe ceweknya yang posesif mikirnya gue berusaha deketin cowoknya dia, sampe ngata-ngatain gitu, gue bahkan bisa jahat beneran. Mau emang pacar lo gue rebut beneran? :D
Cowok lo, gue kedipin mata dikit, tekuk lutut kali sama gue. Elah~
Then, ceweknya si cowok yang baperin gue itu tiba-tiba iMessage gue ngata-ngatain jablay, murahan, kegatelan, padahal yang lebay dan bikin drama duluan siapa? Cowonya duluan. :) Anyway, cewek yang mulutnya kasar gitu, makan bangku sekolahan nggak sik?
Ketika gue tahu betapa sampahnya temenan sama pacar orang, gue memilih gak mau temenan sama pacar orang. Eh, kemudian ada lagi, nih, pacar orang ngajak temenan. Gue tolak. Doi nyumpah-nyumpahin pake bawa-bawa nama Allah katanya biar gue ditegur sama Allah gara-gara milih temen. :p
Sorry, sebelum lo bawa-bawa nama Tuhan, mending lo mikir gimana dulu posisi gue. Masa lalu kayak gimana yang bikin gue membatasi diri buat nggak kenal lebih jauh sama pacar orang, supaya lo nggak perlu bawa-bawa nama Tuhan sembarangan hanya karena lo ngerasa hidup lo paling bener. Gue udah punya pengalaman, temenan sama orang yang pacarnya serba posesif itu nggak nyantai. Serius nggak nyantai. Berangkat dari pengalaman itu, mending gue temenan sama jones yang asik dan nggak baper dibawa ke mana-mana.
Gue nggak peduli kalau orang anggap "Lo, kok, pukul rata kayak gitu? Lo, kok, mengeneralisasi kayak gitu? Lo, kok, mikirnya gitu? Berarti setiap cowok yang punya pacar berarti nggak boleh punya temen?" Deuh, sumpah nggak peduli mau dibilang apa. Emang dasarnya gue nggak pernah ada niat ganggu hubungan orang, mending jauh-jauh aja sebelum hadir benih-benih baper. Bukan milih-milih dan mengeneralisasi. Trauma. Udah males. Lebih baik nemenin jomblo sekalian daripada nemenin orang yang punya pacar posesif. Salah sendiri euy maneh punya pacar ripuh pisan. :p
Gue udah ditegur sama Allah duluan bahwa kalau mau temenan sama pacar orang lain harus mikir dua kali. Apalagi kalau ternyata gue jauh lebih menggoda daripada pacarnya dia sendiri? :p
Temenan? Boleh. Tapi kalau sampe ceweknya yang posesif mikirnya gue berusaha deketin cowoknya dia, sampe ngata-ngatain gitu, gue bahkan bisa jahat beneran. Mau emang pacar lo gue rebut beneran? :D
Cowok lo, gue kedipin mata dikit, tekuk lutut kali sama gue. Elah~
Senin, 10 November 2014
Terimakasih Kebohonganmu
Terima Kasih untuk Kebohonganmu
Seperti biasa, kamu menghilang dan tak ada kabar. Hari ini pun kamu tak
mengizinkanku sedikit saja tahu keadaanmu, apakah pilekmu sudah hilang,
apakah batukmu telah sembuh, apakah beberapa jerawat yang tumbuh di
wajahmu telah kempes. Aku hanya ingin tahu jawaban sederhana itu dan
kamu tak menyediakan sedikit saja waktumu untuk memberiku jawaban atas
semua pertanyaan lugu itu. Dan, terima kasih, untuk lima hari yang penuh
campur aduk, perkenalan ini membuat aku cepat mabuk juga cepat
membasahi pelupuk mata.
Saat pertama kali kita bertemu, aku dan kamu sama-sama mengagumi ciptaan
Tuhan yang disebut mata. Aku masih percaya Tuhan, kamu percaya tuhanmu
adalah dirimu sendiri. Sepulang dari pertemuan itu, tanpa
sepengetahuanku, kamu membuat puisi tentangku, yang kamu bacakan pada
percakapan kita tengah malam itu. Dengan malu-malu, aku menyuguhkan dua
puisi tolol yang entah bagaimana caranya puisi itu bisa membuatmu turut
malu-malu. Aku merasa seperti anak SD yang dadanya berdebar kencang
karena hal yang tidak kupahami sama sekali. Masa iya, ini cinta?
Sementara tubuh putih, wajah oriental, dan pria berkacamata yang kutemui
siang tadi; hanya beberapa menit mampir di pandangan mataku. Dan, kita
sama-sama bertanya, ini cinta?
Dua hari yang lalu, kamu tiba-tiba muncul mengagetkanku, padahal paginya
kamu menghilang tanpa jejak. Kejutanmu menyenangkan, tapi mengapa hal
menyenangkan itu selalu diawali dengan hilangnya dirimu dalam jangka
waktu yang lama? Tulisan ini akan sangat jelek dibaca, aku tidak ingin
sastrawan sekelasmu membaca tulisan bodoh ini, sambil tertawa
terbahak-bahak. Tidak jelas plotnya, tidak jelas alurnya, siapa
tokohnya. Barisan paragraf ini kutulis hanya untuk menumpahkan
kekesalanku pada kebohong-kebohongan bodohmu yang telak kupercayai
dengan sangat berani.
Dua hari yang lalu, aku masih ingat rangkulanmu, aroma tubuhmu, saat
pertama kali kamu mencium pipiku, saat kamu mengcup keningku, dan tanpa
bisa mengemis; aku harus membiarkanmu pergi dengan cepat, menghilang
bagai asap, dan duniaku kembali senyap. Kalau boleh jujur, gadis tolol
ini telah mencintaimu, meskipun aku tahu betapa masa lalumu bukanlah hal
yang mudah ditolerir oleh gadis seumurku. Aku percaya saja ketika
kaubilang kautak lagi suka pada pria, aku menerima saja ketika kautak
menceritakan apapun, dan saat kita bertemu; hanya aku yang selalu
bercerita bagaimana aku memandang dunia. Mengapa kautak membiarkan aku
tahu bagaimana isi dalam kepalamu? Memangnya aku ini masih gadis asing
yang terlihat seperti pemberontak kelas kakap berusaha meringsek masuk
ke dalam pagar duniamu?
Sejak mengenalmu, aku tak peduli bagaimana orang menilaimu, bagaimana
caramu mencintai seseorang; cara-cara yang dibilang orang lain
menyimpang. Aku tak pernah mengganggap bahwa aku berkenalan dengan
seorang pelaku kriminal. Aku juga tak peduli pada hasil keingintahuanku
bahwa ternyata kamu punya kekasih yang jenis kelaminnya sama denganmu.
Itu bukan salahmu, salahku yang mencintaimu. Salahku. Salahku? Salahku!
Salahku yang mau melanjutkan perkenalan ini, padahal mungkin kautidak
berselera pada gadis tolol yang masih dikekang orang tuanya, padahal
mungkin kautak mau mengetahui sosokku lebih dalam. Salahku yang salah
mengartikan semua, salah mengartikan sentuhanmu, salah mengartikan kecup
lembutmu, salah memahami suara beratmu, salah menilai cara bicaramu,
salah memaknai arti rangkulanmu, salah dalam banyak hal, salah mengapa
aku, sekali lagi-- jatuh cinta padamu.
Salahkan aku jika tulisan ini juga salah, jika perasaan ini semakin
ngawur, jika penilaianku yang kelewat absurd ini masuk kategori pikiran
paling tolol versi On The Spot. Aku tak bisa berhenti menyalahkan diriku
sendiri, menyesali yang selama ini kurasakan, tidak berpikir panjang
mengenai apa yang seharusnya kulakukan jika menghadapi pria spesial
sepertimu.
Aku tidak tahu, aku kalut pada rindu yang menggebu. Takut bahwa ternyata
aku tak sebermakna itu di hatimu. Takut bahwa aku hanya kauanggap halte
tempat kausinggah sebelum memutuskan pergi. Jika memang aku dilarang
mencintaimu, mengapa kaumasih memberiku kesempatan untuk berharap?
dari lautmu
yang katamu
berhasil menghancurkan
batu karangmu.
cc: DwitaSari Blog
Langganan:
Postingan (Atom)